RSS

Obesitas Saat Hamil Berisiko Lahirkan Anak Autisme

17 May

Penelitian terbaru yang dilakukan para ilmuwan yang berafiliasi dengan UC Davis MIND Institute menemukan bahwa ibu yang obesitas berisiko 67 persen lebih besar melahirkan anak yang menyandang autisme dan berisiko dua kali lipat memiliki anak dengan gangguan perkembangan lain seperti terlambat bicara atau bahkan gagal mencapai tahapan tumbuh kembang sesuai usia.

Sementara ibu penderita diabetes berisiko 2,3 kali lebih besar memiliki anak dengan gangguan perkembangan dibandingkan ibu dengan kondisi sehat. Namun, proporsi ibu dengan diabetes yang memiliki anak autis lebih tinggi ketimbang ibu yang sehat, meski secara statistik tidak terlalu signifikan.

Studi ini juga menemukan, anak penyandang autis dari ibu penderita diabetes lebih mungkin mengalami kecacatan (rendahnya pemahaman bahasa dan komunikasi) – ketimbang anak autis yang lahir dari ibu yang sehat. Namun, anak-anak tanpa autisme yang lahir dari ibu pendeerita diabetes juga rentan mengami gangguan sosialisasi seperti, rendahnya pemahaman dan produksi bahasa, jika dibandingkan dengan anak tanpa autis dari ibu yang sehat.

“Lebih dari sepertiga wanita AS di usia subur mengalami  obesitas dan hampir sepersepuluhnya memiliki diabetes gestasional atau tipe 2 selama kehamilan. Temuan kami bahwa kondisi kehamilan kemungkinan berkaitan dengan  gangguan perkembangan saraf pada anak perlu mendapat perhatian dan mungkin memiliki dampak serius bagi kesehatan masyarakat,” kata Paula Krakowiak, epidemiolog dari UC Davis.

Peneliti berjudul “Maternal metabolic conditions and risk for autism and other neurodevelopmental disorders,” ini dipublikasikan secara online dalam jurnal American Academy of Pediatrics.

Peneliti mengklaim bahwa ini adalah studi pertama yang meneliti hubungan antara gangguan perkembangan saraf dan kondisi metabolik ibu hamil, dan tidak terbatas pada penderita diabetes tipe 2 atau diabetes gestasional, termasuk diantarany obesitas dan hipertensi.

Autisme ditandai dengan gangguan dalam interaksi sosial, defisit komunikasi dan perilaku repetitif dan sering disertai dengan cacat intelektual.

Dalam risetnya, penelitian melibatkan 1.004 pasang ibu dan anak dari berbagai latar belakang yang terdaftar dalam Childhood Autism Risk from Genetics and the Environment Study (CHARGE). Kebanyakan dari mereka tinggal di California Utara. Ada 517 anak yang mengalami autisme; 172 dengan gangguan perkembangan lainnya, dan 315 di antaranya normal.

Para peneliti memperoleh informasi mengenai demografis dan kesehatan Ibu serta anak-anak dengan menggunakan studi CHARGE Study Enviromental Exposure Questinnaire. Wanita dianggap diabetes jika kondisi catatan medis menunjukkan mereka mengidap diabetes atau dengan mewawancarai peserta. Begitu pula untuk memperoleh informasi tentang riwayat hipertensi.

Sementara untuk mengkonfirmasi diagnosa perkembangan anak dengan autisme peneliti menggunakan Autism Diagnostic Interview-Revised (ADIR) dan Autism Diagnostic Observation Schedules (ADOS).

Di antara anak yang ibunya menderita diabetes selama kehamilan, studi ini menemukan bahwa persentase anak autis yang lahir dari ibu dengan diabetes tipe 2 atau gestational diabetes sebanyak 9,3 persen, cacat perkembangan (11,6 persen), dan lebih dari 6,4 persen anak lahir autis dari ibu tanpa kondisi metabolik.

Lebih dari 20 persen para ibu dengan obesitas melahirkan anak autis atau cacat perkembangan lainnya, sementara hanya 14 persen ibu tanpa obesitas mengembangkan anak dengan autis.

Sekitar 29 persen dari anak-anak dengan autisme memiliki ibu dengan gangguan kondisi metabolik, dan hampir 35 persen dari anak-anak dengan gangguan perkembangan lain memiliki ibu dengan gangguan kondisi metabolik.

Analisis kemampuan kognitif pada anak-menemukan bahwa, di antara anak autis (anak-anak dari ibu dengan diabetes) mendapatkan hasil tes yang lebih buruk terkait ekspresif, reseptif bahasa dan keterampilan komunikasi dibandingkan dengan anak dari ibu tanpa diabetes.

Para peneli mencatat bahwa obesitas merupakan faktor risiko yang signifikan untuk diabetes dan hipertensi, dan ditandai oleh peningkatan resistensi insulin dan peradangan kronis, seperti diabetes dan hipertensi.

Menurut peneliti, pada ibu penderita diabetes dan kemungkinan kondisi pra-diabetes di masa kehamilan, pengaturan glukosa menjadi sulit diatur sehingga meningkatkan produksi insulin pada janin. Produksi insulin yang tinggi membuat kebutuhan akan oksigen menjadi lebih besar, akibatnya suplai oksigen bagi janin menjadi berkurang. Diabetes juga dapat mengakibatkan kekurangan zat besi pada janin.

“Kedua kondisi ini dapat mempengaruhi perkembangan otak janin,” terang peneliti.

Lebih lanjut peneliti mengatakan, peradangan yang terjadi saat masa kehamilan, juga dapat mempengaruhi perkembangan janin. Protein tertentu yang berperan dalam hubungan antarsel yang diproduksi oleh sel-sel sistem kekebalan tubuh dapat melewati plasenta dari ibu ke janin dan mengganggu perkembangan otak.

 
Leave a comment

Posted by on May 17, 2012 in Penelitian Autis

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: