RSS

Wanita Kontestan Miss America Ini Menyandang Autisme

21 Feb

KOMPAS.com – Menyandang autisme tidak menghalangi Alexis Wineman (18), remaja putri asal Cut Bank, Montana, untuk mengikuti kontes Miss America Pageant, yang bakal berlangsung di Las Vegas, akhir pekan ini. Dalam video berjudul Normal is Just a Dryer Setting: Living with Autismyang ditayangkan di KRTV.com, Alexis mengungkapkan pengalamannya tumbuh dengan autisme.

1547485-alexis-wineman-pAlexis didiagnosa dengan Pervasive Development Disorder (Gangguan Perkembangan Pervasif atau PDD) dan Sindrom Aspergers (beberapa kondisi gejala autisme di mana pengidapnya mengalami kesulitan berkomunikasi) di usia 11. Namun, kini Alexis menggunakan posisinya sebagai kontestan Miss America untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kelainan ini.

“Kebanyakan orang tidak memahami apa autisme itu, padahal satu dari 88 orang memiliki beberapa bentuk autisme sehingga pemahaman ini menjadi semakin diperlukan,” tuturnya dalam video yang dirancang untuk memenuhi salah satu persyaratan mengikuti kontes itu.

Alexis bukan baru sekali ini berbicara mengenai kehidupannya sebagai penyandang autisme. Tahun lalu dalam wawancara bersama DisabilityScoop, ia mengakui bagaimana ia berjuang agar diterima dalam kelompok pergaulannya pada awal usia remaja.

“Bersosialisasi dengan teman sekelas, meskipun aku menginginkannya, rasanya canggung sekali. Aku tidak mengerti becandaan mereka. Aku berusaha memahaminya secara harafiah,” kata perempuan muda yang menjadikan monolog komedi sebagai salah satu talentanya ini.

Untunglah Alexis memiliki keluarga yang sangat mendukungnya untuk berani aktif dalam banyak kegiatan di sekolah. Ia sangat menikmati kesempatan menjadi anggota kelompok cheerleaders. Ia bahkan pernah menjadi kapten tim, dan tampil dalam parade Hari Thanksgiving di pusat perbelanjaan Macy’s tahun 2011.

Juni 2012, Alexis menjuarai kontes Miss Montana. Sejak itu, dengan ditemani sang ibu Alexis banyak menggunakan waktunya untuk mengajar anak-anak mengenai ketidakmampuan perkembangan diri. “Aneh juga mengapa orang tidak bisa menerima orang lain hanya karena mereka berbeda,” ujarnya. “Menjadi berbeda itu bukan sesuatu yang harus dipandang rendah, tapi untuk direngkuh. Aku ingin berbagi dengan anak-anak penyandang autisme bahwa hal ini bukan sesuatu yang memalukan.”

Tentu saja, proses menjalani hal ini tidak mudah. Enam bulan terakhir ini Alexis harus berjuang sendiri karena sang ibu, Kimberley Butterworth, tidak selalu bisa menemani. Namun itu semua bukan menjadi hambatan besar baginya. Tantangan terbesarnya sebagai salah satu kontestan putri-putrian justru ketika harus memakai sepatu berhak tinggi.

“Aku bukan tipe gadis yang memakai sepatu berhak tinggi, dan aku tidak pernah menyiapkannya. Itulah bagian tersulit,” akunya.

Sumber: The Daily Mail

 
Leave a comment

Posted by on February 21, 2013 in Penelitian Autis

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: